Identifikasi Potensi Pangan Lokal di KWT Dwi Manunggal Karya Desa Karanggedang Kecamatan Bruno
Kategori: PELATIHAN PANGAN LOKAL
Pengembangan Pangan Lokal Mokaf, KWT Dwi Manunggal Karya Dorong Nilai Tambah Singkong Desa Karanggedang Kecamatan Bruno
Kelompok Wanita Tani (KWT) Dwi Manunggal Karya Desa Karanggedang, Kecamatan Bruno, terus mengembangkan pangan lokal berbasis singkong melalui produksi tepung mokaf dan berbagai produk turunannya. Kegiatan ini telah berjalan sejak tahun 2015 dengan pendampingan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), sebagai upaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal dan mendukung ketahanan pangan desa.
Pada Rabu, 7 Januari 2026, dilakukan kunjungan lapangan ke KWT Dwi Manunggal Karya untuk melihat secara langsung proses pengolahan tepung mokaf, mulai dari penyiapan bahan baku hingga pengembangan produk turunan. Kunjungan ini juga menjadi sarana diskusi terkait kendala produksi, sarana prasarana, serta peluang pengembangan usaha ke depan.
Bahan baku utama berupa singkong diperoleh dari bakul dengan sistem pesan, dengan harga sekitar Rp2.000 per kilogram singkong kupasan. Singkong yang digunakan berumur sekitar 13 bulan, karena singkong yang terlalu tua menghasilkan tepung dengan kualitas kurang baik dan lebih dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Dalam satu kali proses produksi, KWT Dwi Manunggal Karya mengolah sekitar 60 kilogram singkong, bahkan dapat mencapai lebih dari satu kuintal. Dari 10 kilogram singkong segar, dihasilkan sekitar 3 kilogram tepung mokaf.
Proses pembuatan tepung mokaf dilakukan secara bertahap dan higienis, dimulai dari pembersihan dan pemotongan singkong, kemudian perendaman dan pencucian hingga tiga kali sehari selama tiga hari tiga malam sampai singkong benar-benar bersih dan berwarna putih. Selanjutnya singkong dijemur hingga kering sempurna. Pengeringan menjadi tahap krusial karena apabila kadar air masih tinggi, tepung dapat berwarna kekuningan dan beraroma kurang baik. Oleh karena itu, proses pengeringan ideal dilakukan pada musim kemarau dengan panas penuh. Setelah kering, singkong digiling menggunakan mesin penggiling bantuan Dana Desa (DD).
Saat ini, KWT Dwi Manunggal Karya telah memiliki peralatan dasar seperti ember perendaman tertutup dan mesin penggiling. Namun, untuk mendukung pengembangan produk turunan, masih dibutuhkan sarana tambahan seperti terpal UV, alat pengering yang lebih optimal, serta oven pengering berbasis listrik agar proses pengeringan lebih stabil meskipun memerlukan waktu berhari-hari.
Tepung mokaf yang dihasilkan memiliki daya simpan hingga satu tahun apabila benar-benar kering. Produk ini telah diminati oleh UMKM di wilayah Bruno, terutama sebagai bahan baku mie mokaf, meskipun permintaan masih belum rutin. Selain dijual dalam bentuk tepung, KWT Dwi Manunggal Karya juga mengembangkan berbagai produk turunan seperti tiwul, brownies, cookies, lapis gulung, piscok mokaf, serta es krim mokaf.
Produk es krim mokaf dijual dengan harga Rp2.000 per cup, sedangkan brownies mokaf dipasarkan dengan harga Rp30.000 untuk ukuran kecil dan Rp50.000 untuk ukuran besar. Pemasaran produk dilakukan melalui warung-warung sekitar Desa Karanggedang, kios lokal, serta melalui UMKM di Kecamatan Bruno.
Melalui kunjungan lapangan ini, diharapkan KWT Dwi Manunggal Karya semakin berkembang, mampu memperkuat peran perempuan dalam ekonomi desa, serta menjadi penggerak pengembangan pangan lokal berbasis singkong di Kecamatan Bruno.
#dkpp #pengembanganpanganlokalmokaf #reels #purworejo #bidangpangan